Skip to content

Ga Sinkron Tapi Membuat Produsen Untung

Juli 11, 2011

Ternyata Segmentasi dan Penargetan(Targeting) yang sudah ditetapkan oleh perusahaan bisa melenceng ketika dilempar ke pasar.  Berikut ini adalah contoh Kasus Segmentasi dan Target perusahaan yang tidak sesuai dengan target Segmentasi dan Target yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Smart Phone “Blackberry”

Pada awalnya segmentasi blackberry itu didasarkan pada segmen demografi(jenis pekerjaan), tapi kondisi dilapangan menunjukkan penyimpangan segmentasi tersebut ke arah psikografis, karena sekarang ini orang-orang yang menggunakan blackberry  lebih didasarkan pada gengsi dan gaya hidup daripada manfaat dari blackberry itu sendiri. Target awal perusahaan blackberry adalah untuk kalangan yang membutuhkan kecepatan dan kemudahan dalam mengakses informasi dan mengadakan pesan-pesan singkat( blackberry mefasilitasi aktifitas pertukaran pesan tersebut dalam bentuk “blackberry messanger”) terhadap rekan kerja, seperti pebisnis,eksekutif, dan cendikiawan, tapi pada kenyataannya di pasar, produk blackberry lebih banyak digunakan oleh kalangan muda, anak-anak SMP, SMA, Mahasiswa, bahkan anak SD pun sudah menggunakan blackberry. Terlihat sekali penyimpangan segmentasi dan target pasar blackberry(di Indonesia). Namun hal ini sangat menguntungkan perusahaan blackberry, karena membuat penjualan produknya melambung tinggi. tapi disisi lain hal ini membuat konsumen buntung khususnya bagi orang-orang yang belum memiliki penghasilan sendiri, karena perilaku hidup konsumen menjadi boros dengan harus membayar biaya berlangganan bulanan.

Rokok

Segmentasi dari produk rokok adalah berdasarkan segmen demografi(umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan).

Namun  fakta di lapangan berkata lain. Terpadat penyimpangan segmentasi produk rokok dari segmentasi demografi ke arah segmentasi psikografis(Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah.
Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
Kepribadian), karena banyak orang-orang yang merokok didasarkan pada rasa agar terlihat lebih garang, maco, berani, sexy, gaul, lebih moderen,dsb. Banyak faktor-faktor yang menjadi pemicu penyimpangan segmentasi ini, salah satunya adalah pengaruh dari globalisasi.

Targetnya pun menyimpang, karena rokok ditargetkan kepada orang-orang yang berusia diatas 21 tahun, namun faktanya banyak orang-orang dibawah usia tersebut sudah merokok bahkan konsumsi merokoknya bisa lebih banyak dari orang-orang yang berusia 21tahun ke atas.

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: